Meningkatkan Harapan Hidup di Medan Perang Pandemi

Pandemi Covid-19 selama 2 tahun  ini telah meluluhlantahkan berbagai sendi  kehidupan di dunia, pun di Indonesia.  Sudah banyak korban jiwa akibat terpapar  virus ini seolah menjadi kematian yang siasia. Kabar buruk lainnya bahwa belum ditemukan obat khusus yang mampu melemahkan virus ini. Yang terjadi malah sebaliknya, virus ini sangat cepat bermutasi dengan varian-varian agresif yang semakin mengancam kehidupan manusia.

“Kesehatanku tergantung pada aku dan kamu, kesehatanmu tergantung pada kamu dan aku. Mari kita saling menjaga dan melindungi !” Pesan ini disampaikan oleh  P. Ch. Kristiono Puspo, SJ  sebagai direktur Lembaga Daya Dharma KAJ  pada saat membuka  webinar bertema gerakan  vaksinasi covid-19.

Webinar diselenggarakan oleh LDD KAJ pada Kamis malam 5 Agustus 2021 melalui aplikasi daring dan dipancarkan secara live streaming di youtube GueLDD https://www.youtube.com/watch?v=aDpTgbybKwU. Dalam kesempatan ini, LDD KAJ mengangkat tema  pentingnya  vaksinasi bagi masyarakat. Peserta yang hadir dari berbagai kalangan seperti para penyandang disabilitas, warga miskin kota di Jakarta, para buruh, para relawan dan pemerhati  sosial lainnya.

Dari webinar ini ditemukan setidaknya ada 2 tameng pertahanan yang dibutuhkan agar kita mampu bertahan dari serangan virus corona yang tidak kasat mata yakni menerapkan protokol kesehatan (PROKES) dan VAKSIN untuk meningkatkan imunitas tubuh secara spesic terhadap amukan virus corona ini. Hal ini juga diungkapkan oleh dokter Maya Sandra dari Jakarta  dari Satgas Covid-19 Kementerian Kelautan RI yang malam ini bergabung sebagai salah satu narasumber. Beliau mengatakan, ”melaksanakan protokol kesehatan dan menerima vaksin adalah cara untuk melindungi diri dan melindungi negeri. Keuntungan bagi yang sudah menerima vaksin apabila terpapar covid pada umumnya tidak bergejala berat, mudah sembuh, dan mengurangi risiko kematian’’.

Informasi dari dokter Sandra terkait dengan keuntungan bagi orang yang telah divaksinasi dan terpapar covid dengan gejala ringan itu dikonfirmasi secara positif  oleh  Tri Sukoco Cahyo dari Jakarta. Mas Tri adalah  relawan kebencanaan dan penyintas Covid. Ia membagikan pengalamannya terkait dengan penerimaan vaksin.  “Pada awalnya saya tidak mau di vaksin karena takut jarum suntik, namun akhirnya berani juga menerima vaksin, ketika  pernah terpapar covid, saya cukup isolasi dirumah,  gejala  ringan dan cepat pulih dalam proses isolasi mandiri’’, ungkap mas Tri.

Sementara itu, dari pengalaman sebagai apoteker yang terlibat dalam kegiatan di masyarakat, ibu Bernadete Eko S.Fam dari Banjarnegara – Jawa Tengah menyatakan bahawa “ Vaksin menjadi salah satu cara untuk meningkatan harapan hidup dimasa pandemi covid ini”. Namun dari pengalaman gerakan “di kampung” sekitar Banjarnegara ditemukan adanya kesulitan untuk segera mendaptkan vaksin. Barangkali karena prioritas pemerintah masih pada daerah-daerah perkotaan yang leboh rentan pada serangan virus covid ini.

Banyak hal menjadi penyebab belum meratanya sebaran penerima vaksin. Salah satunya adalah kesiapan  warga secara pribadi untuk menerima vaksin. Ada yang memang secara ketentuan kesehatan belum memenuhi kreteria, namun ada pula yang menolak karena belum memiliki informasi yang tepat tentang vaksin ini.

 Ustad Gus Wahid MH dari NU Care dan lazisNU-PBNU pada webinar ini membagikan padangan dari sisi agama Islam. Menurut beliau dalam kondisi darurat seperti pandemi saat ini, dibutuhkan vaksin untuk melindungi kehidupan pribadi dan keselamatan bersama umat manusia.  Gus Wahid juga menegaskan bahwa mentaati prokes yakni dengan memakai masker dan menjada jarak aman adalah upaya untuk melindungi diri dan melindungi sesama. Oleh karenannya  memakai masker dan mentaati prokses lainnya adalah bagian dari ibadah yang berkenan pada Allah SWT.

Ditulis oleh: F.X. Yono Hascaryo P.